© 2002
Feira Budiarsyah Arief Posted: 3 May 2002
Makalah
Falsafah Sains (PPs 702)
Program
Pasca Sarjana / S3
Institut
Pertanian Bogor
Mei 2002
Dosen:
Prof
Dr Ir Rudy C Tarumingkeng (Penanggung Jawab)
MANGROVE
SEBAGAI ALTERNATIF MENCEGAH ABRASI PANTAI
“Studi
Kasus Pantai di Kalimantan Barat”
Oleh:
C226010081 (SPL)
E-mail: feirabudiarsyah@yahoo.com
Pada masa Pembangunan Jangka Panjang II (PJP II), Indonesia
mendapat tantangan mendasar berupa bagaimana mempertahankan atau meningkatkan
pertumbuhan ekonomi secara berkesinambungan tanpa merusak sumber daya
alamnya. Bila berbicara mengenai
sumber daya alam, maka tidak bisa lepas dari aspek pengelolaannya. Hal ini sangat berkaitan dengan
keberkesinambungan pemanfaatan sumber daya alam tersebut.
Indonesia yang
mempunyai panjang garis pantai sekitar 81.791 km, yang mungkin merupakan pantai
terpanjang diseluruh dunia (Supriharyono, 2000). Hal ini merupakan potensi
sekaligus tantangan untuk dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.
Pada sepanjang garis pantai yang berada pada wilayah
pesisir inilah denyut aktifitas perekonomian sangat dominan dibandingkan dengan
wilayah sebelah dalam.
Hal ini dapat dilihat dari lokasi pemukiman penduduk
yang tersebar dan tumbuh disepanjang wilayah ini. Selanjutnya antara satu lokasi dengan lainnya dihubungkan dengan
jalur transportasi yang terus dikembangkan.
Khusus untuk
Kalimantan Barat lokasi pemukiman (kota) dan jalur transportasi secara
sederhana tercantum pada Gambar 1.

Namun dalam
perkembangannya, wilayah pesisir khususnya yang berbatasan langsung dengan laut
sangat rentan terhadap berbagai perubahan.
Menurut Kepala Dinas Kimpraswil Kalbar, Ir. Said Djafar, kerusakan garis
pantai di Kalimantan Barat telah mencapai 8.035 km dan yang telah diperbaiki
sepanjang 4.386 km tahun 1992 (Marsudi dan Hari, 2001).
Kerusakan garis pantai yang diakibatkan oleh abrasi
ini perlu dicermati dengan hati-hati agar langkah pengelolaan yang dilakukan
berdampak baik. Dalam artian sukses
mengurangi kerusakan dalam jangka waktu yang lama dan memberikan manfaat serta
sekaligus mengikut sertakan masyarakat sekitarnya. Sehingga akan tumbuh kesadaran untuk menjaga aset daerah ini
secara lestari.
Sukses dalam memilih berbagai alternatif ilmu dan
teknologi terkini yang dapat mencegah
bertambahnya tingkat kerusakan garis pantai ini.
Berdasarkan hasil penelitian LIPI dan Litbang
Pengairan pada tahun 1992 serta Konsultan Darma Dakra Tama tahun 1998, menyimpulkan
bahwa struktur paling baik dan efektif untuk menangani kerusakan pantai di
Kalbar adalah berupa kubus beton ukuran 0,40 m2 (Marsudi dan Hari, 2001).
Namun
pemanfaatan pantai bermangrove untuk penghalang abrasi pantai perlu pula
dipertimbangkan. Sebagaimana diketahui
bahwa salah satu fungsi hutan mangrove adalah pelindung dari abrasi (Bengen,
2001a).
Untuk itu perlu
dikaji lebih jauh kedua alternatif ilmu dan teknologi pencegah lebih
berlanjutnya tingkat kerusakan garis pantai ini khususnya yang disebabkan oleh
abrasi.
Berdasarkan
Kamus Oseanografi (Setiyono, 1996), abrasi adalah proses pengikisan pantai oleh
tenaga gelombang laut dan arus laut yang bersifat merusak.
Abrasi biasanya disebut juga erosi pantai.
Kerusakan garis pantai akibat
abrasi ini dipacu oleh terganggunya keseimbangan alam daerah pantai
tersebut. Perubahan keseimbangan alam seiring dengan tuntutan
kebutuhan manusia tentunya. Karena sebenarnya
abrasi ini pada kondisi alami masih dikatakan terkendali.
Proses pengikisan pantai
oleh tenaga gelombang dan arus laut yang bersifat merusak ini disebabkan oleh
berbagai faktor dan tidak sama untuk daerah yang berbeda.
Adapun
perubahan keseimbangan lokal yang dominan memacu tingkat pengikisan pantai
salah satunya adalah semakin terbukanya alur sepanjang pinggir pantai dengan
hilangnya pemecah gelombang (breaker).
Sehingga energi dari gelombang dan arus laut langsung menerjang
pinggiran pantai secara penuh.

Seiring dengan
kemajuan ilmu dan teknologi yang dikuasai hingga saat ini, perlu dicarikan
alternatif untuk menggantikan pemecah gelombang yang hilang atau telah semakin
berkurang tadi. Tentunya dengan mempertimbangkan berbagai aspek, misal seberapa
besar kemampuannya mengurangi energi dari gelombang dan arus laut serta seberapa
lama keberlanjutannya.
Secara alami, mulai dari terumbu
karang, padang lamun hingga hutan mangrove memiliki fungsi mengurangi energi
gelombang dan arus laut. Sedangkan
pembangunan tembok atau tonggak beton sepanjang garis pantai juga merupakan
usaha buatan manusia untuk mengurangi abrasi tersebut.
Hutan mangrove merupakan komunitas vegetasi tropis, yang
didominasi oleh berbagai jenis pohon mangrove yang mampu tumbuh dan berkembang
pada daerah pasang surut berlumpur.
Salah
satu tipe zonasi hutan mangrove di Indonesia terdiri dari Avicennia spp. pada
daerah yang paling dekat dengan laut, dengan substrat agak berpasir. Pada zona ini
biasa berasosiasi Sonneratia spp. yang dominan tumbuh pada lumpur dalam yang
kaya bahan organik. Lebih ke arah
darat, hutan mangrove umumnya didominasi oleh Rhizophora spp. Di Zona ini juga
dijumpai Bruguiera spp. dan Xylocarpus spp.
Zona berikutnya didominasi oleh Bruguiera spp. Terakhir pada zona
transisi antara hutan mangrove dengan hutan daratan rendah biasanya ditumbuhi
oleh Nypa fruticans, dan beberapa spesies palem lainnya.
Gambar
3. Salah satu tipe zonasi Hutan Mangrove
(Bengen, 2001a)

Sebagai salah satu
ekosistem pesisir, hutan mangrove berfungsi sebagai (a) peredam gelombang dan
angin badai, pelindung dari abrasi, penahan lumpur dan perangkap sedimen, (b)
penghasil sejumlah detritus dari daun dan dahan pohon mangrove, (c) daerah
asuhan (nursery grounds),
mencari makan (feeding grounds), dan pemijahan (spawning grounds)
berbagai jenis ikan, udang dan biota laut lainnya, (d) penghasil kayu untuk
konstruksi, kayu bakar, bahan baku arang, dan bahan baku kertas (pulp),
(e) pemasok larva ikan, udang dan biota lainnya, dan (f) tempat pariwisata
(Bengen, 2001a).
Gambar 4. Fungsi Ekosistem
Hutan Mangrove

Hal ini didukung oleh
kemampuan adaptasi yang tinggi dari pohon mangrove. Bengen (2001a) mengatakan bahwa pohon mangrove mampu beradaptasi
terhadap kadar oksigen rendah, kadar garam tinggi, tanah yang kurang stabil dan
adanya pasang-surut.
Adaptasi terhadap kadar
oksigen rendah dilakukan pohon mangrove dengan membentuk perakaran yang khas,
yakni: (a) bertipe cakar ayam yang mempunyai pneumatofora (misalnya Avicennia
spp., Xylocarpus spp., dan Sonneratia spp.), untuk mengambil oksigen dari
udara, dan (b) bertipe penyangga/tongkat yang mempunyai lentisel (misalnya:
Rhizophora spp.). Sedangkan untuk beradaptasi
terhadap kadar garam yang tinggi dilakukan dengan memiliki: (a) sel-sel khusus
dalam daun yang berfungsi untuk menyimpan
garam, (b) daun
tebal dan kuat yang banyak mengandung air untuk
mengatur keseimbangan garam, dan (c) daun berstruktur stomata khusus untuk
mengurangi penguapan.
Terakhir. pohon mangrove juga beradaptasi terhadap tanah atau media
tumbuh yang kurang stabil (berlumpur) dan adanya passang-surut dengan
mengembangkan struktur akar yang sangat ekstensif dan membentuk jaringan horizontal
yang lebar. Disamping untuk
memperkokoh pohon, akar tersebut juga berfungsi untuk mengambil unsur hara dan
menahan sedimen.

Hutan mangrove
juga umum disebut hutan bakau atau mangal.
“Bakau” adalah nama tumbuhan
daratan berbunga yang mengisi kembali pinggiran laut. Sebutan bakau ditujukan untuk semua individu
tumbuhan, sedangkan mangal ditujukan bagi seluruh komunitas atau asosiasi yang
didominasi oleh tumbuhan lain (Nybakken, 1982). Walsh (1974) melaporkan bahwa 60-75 persen garis pantai daerah
tropik di bumi telah ditumbuhi oleh bakau.
Hutan
mangrove Indonesia kini tersisa 2,5 juta hektar. Padahal sepuluh tahun silam mencapai 4,5 juta hektar. Sehingga menjadi negara dengan hutan
mangrove terluas di dunia. Dimana total
luasnya hutan mangrove mencapai 14,70 juta hektar.
Hutan mangrove di Indonesia ini
keragamannya juga tinggi. Mencapai
total 89 jenis tumbuhan, dengan rincian sebagai berikut: (a) 35 jenis pohon,
(b) 5 terna, (c) 9 perdu. (d) 9 liana, (e) 29 epifit, dan (f) 2 parasit
(Trubus, 2000).
MANGROVE SEBAGAI ALTERNATIF
MENCEGAH ABRASI PANTAI
Kerusakan
sepanjang garis pantai yang diakibatkan oleh abrasi perlu dicermati dengan
hati-hati agar langkah pengelolaan yang dilakukan berdampak baik. Pengelolaan yang berdampak baik dimulai dari
tahap pemilihan berbagai alternatif ilmu dan teknologi yang akan
digunakan. Hal ini sangat menentukan
dikaitkan dengan keberhasilan mengurangi kerusakan dalam jangka waktu yang lama
dan memberikan manfaat besar serta sekaligus mengikut sertakan masyarakat sekitarnya. Sehingga akan tumbuh kesadaran untuk menjaga
aset daerah ini secara lestari.
Lebih-lebih dengan telah keluarnya ketetapan Pemerintah Indonesia pada
tanggal 7 Mei 1999 berupa UU No.22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah. Dengan adanya UU ini, maka membawa implikasi
baru bagi pembangunan di wilayah pesisir.
Bila sebelumnya seluruh wilayah perairan laut Indonesia berada pada
wewenang pemerintah pusat, maka sekarang pemerintah daerah (propinsi dan kota/kabupaten)
memiliki wewenang pengelolaan atas sebagian wilayah perairan laut ini.
Perilaku perubahan garis pantai yang terjadi disepanjang pantai
Kalimantan Barat menunjukkan peningkatan yang spektakuler, terutama mulai tahun
80-an. Pada daerah tertentu kecepatan
abrasi hingga mencapai 10 meter per tahun (LIPI, 1992 dalam Marsudi dan hari,
2001). Apabila kejadian tersebut tidak
dikendalikan maka infrastruktur berupa jalur transportasi yang menghubungkan
Pontianak selaku Ibu Kota Propinsi Kalimantan Barat dengan kota-kota kabupaten
sepanjang pantai akan terkikis. Hal ini akan
sangat merugikan terutama bagi masyarakat di daerah tersebut.
Menghadapi kenyataan itu perlu dicarikan jalan keluar dari permasalahan
abrasi ini khususnya di Kalimantan Barat.
Karena karakteristik gelombang, arus laut, arah angin dan pola curah
hujan yang spesifik daerah. Tentunya
akan lebih baik bila dapat mempelajari data
tersebut untuk dianalisas 5 hingga 10 tahun yang lalu hingga saat ini. Sehingga akan didapatkan fenomena pesisir
Kalimantan Barat yang terbaik. Selanjutnya
baru dapat disusun beberapa alternatif untuk mengurangi energi tersebut
sehingga tidak berakibat terjadinya abrasi yang spektakuler itu.
Sebagai alternatif pertama berdasarkan
hasil penelitian LIPI dan Litbang Pengairan pada tahun 1992 serta Konsultan
Darma Dakra Tama tahun 1998 yang menyimpulkan bahwa struktur paling baik dan
efektif untuk menangani kerusakan pantai di Kalbar adalah berupa kubus beton
ukuran 0,40 m2 (Marsudi dan Hari, 2001).
Alternatif kedua adalah pemanfaatan
pantai bermangrove untuk penghalang abrasi pantai perlu pula
dipertimbangkan. Sebagaimana diketahui
bahwa salah satu fungsi hutan mangrove adalah pelindung dari abrasi (Bengen,
2001a).

Penggunaan Kubus Beton
Penggunaan
kubus beton dengan ukuran 0,40 m2 sesuai dengan hasil penelitian LIPI dan Litbang Pengairan pada tahun
1992 serta Konsultan Darma Dakra Tama tahun 1998 telah dilakukan di Kalimantan
Barat (Marsudi dan Hari, 2001).
Sistem penumpukan kubus beton rawan
terhadap hantaman gelombang dan arus sungai apabila musim penghujan. Hal ini
karena adanya sifat gerusan arus (scouring of current) yang
bersifat siklik akan menggerus bagian bawah dari struktur.
Sehingga beban kubus beton yang begitu berat akibat digerus oleh arus
siklik tersebut dikhawatirkan akan runtuh/kolap akibat bebannya sendiri.

Mangrove
Alternatif
kedua adalah pemanfaatan pantai bermangrove, artinya mengembalikan jalur hijau
sepanjang garis pantai dengan melakukan penanaman kembali pohon mangrove. Tentunya dengan harapan nantinya akan
berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi (Bengen, 2001a).
Data mengenai kondisi
biotis meliputi bagaimana kerapatan penutupan lahan oleh mangrove yang
diperlukan, pola tanam yang dapat dilakukan, dan jenis pohon mangrove yang jadi
pilihan untuk digunakan merupakan hal yang perlu dipertimbangkan atau dikaji
pada alternatif ini. Selain itu
aspek sosial ekonominya juga tidak ketinggalan harus menjadi perhatian. Mengrove memerlukan waktu lama untuk dapat
berfungsi sebagaimana diinginkan.
Selanjutnya bila telah berfungsi khususnya pelindung abrasi, fungsi lain
seperti bahan bangunan dan kayu bakar atau arang juga menjadi pilihan. Untuk itu aspek sosial budaya masyarakat
sekitar perlu diperhatikan dan bila perlu dibina untuk dipersiapkan sedini
mungkin. Misalnya dengan melibatkan
peran sertanya dari awal pelaksanaan penanaman jalur hijau sepanjang pantai
dengan mangrove ini.

Kubus Beton dan Mangrove
Melihat kondisi ini maka tercetus konsep untuk mengkombinasikan
penggunaan kubus beton dengan mangrove.
Sebagaimana dikatakan sejak 1992 telah dilakukan perbaikan kerusakan
garis pantai sepanjang 4.386 km diantaranya dengan membangun bangunan pemecah
gelombang. Selanjutnya penggunaan
mangrove yang memerlukan waktu dan pelindung langsung dari laut terbuka sangat
tepat.
Penggunaan kubus beton terlajur digunakan tidak menjadi
masalah bahkan menciptakan zone terlindung bagi pertumbuhan pohon mangrove
muda. Sehingga bila seiring perjalanan
waktu dan telah terjadi penggerusan bahkan keruntuhan susunan kubus beton maka
pada saat itu diharapkan pohon mangrove telah tumbuh kuat dan dapat berfungsi
sebagai pelindung abrasi.

PENUTUP
Kerusakan sepanjang garis pantai yang diakibatkan
oleh abrasi perlu dicermati dengan sungguh-sungguh berkaitan dengan dampak yang
diakibatkan. Khusus di Kalimantan Barat
penggunaan kubus beton yang telah dilaksanakan ada baiknya dikombinasikan
dengan penanaman pohon mangrove.
Kombinasi ini
untuk mengantisipasi bila telah terjadi penggerusan pada struktur dasar susunan
kubus beton maka mangrove yang ditanam telah berfungsi. Tentunya banyak fungsi lain secara tidak
langsung akan dinikmati pula khususnya oleh masyarakat sekitar.
Bengen, D.G. 2001a. Pedoman Teknis Pengenalan dan
Pengelolaan Ekosistem Mangrove. Cetakan Ketiga. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir
dan Laut. Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Bengen, D.G. 2001b. Sinopsis Ekosistem dan Sumberdaya
Alam Pesisir dan Laut. Cetakan Kedua. Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Laut.
Institut Pertanian Bogor. Bogor.
Marsudi
dan Hari B. 2001. Abrasi Pantai di Kalbar. Harian Umum Pontianak Pos Edisi
Kamis 11 Oktober 2001. Pontianak.
Nybakken, J.W. 1992. Biologi Laut Suatu Pendekatan
Ekologis. Alih Bahasa M. Eidman dkk.
Penerbit PT Gramedia. Jakarta
Pontianak
Post. 2001. Abrasi Pantai Kian Mengancam. Harian Umum Pontianak Post Edisi Senin 1 Oktober
2001. Pontianak
Supriharyono. 2000. Pelestarian dan Pengelolaan
Sumber Daya Alam di Wilayah Pesisir Tropis. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama
. Jakarta.
Setiyono, H. 1996. Kamus
Oseanografi. Cetakan Pertama. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Trubus.
2000. Mangrove, Surga yang terkoyak. No. 362 Edisi Januari 2000, Jakarta
Wahyono, A. dkk. 2001.
Pemberdayaan Masyarakat Nelayan.
Penerbit Media Pressindo. Yogyakarta.