© Dwi Iswari

Makalah Perorangan

Pengantar Falsafah Sains (PPS 702)

Sekolah Pasca Sarjana  /PSL - S3

Institut Pertanian Bogor

April 2004

Dosen : Prof. Dr. Ir. Rudy C. Tarumingkeng

 

 

PENGENDALIAN  HAYATI  GULMA  AIR,  Salvinia molesta  Mitchell  

DENGAN KUMBANG Cyrtobagous salviniae Calder dan Sands

 

 

Oleh:

 

 

Dwi Iswari

NRP : P 062034224

 

ABSTRACT

Salvinia molesta Mitchell is one of a perennial aquatic weed originated from South Eastern Brazil, which is distributed throughout both tropical and sub-tropical regions by human, especially as aquarium and ornamental plants. Due to the morphological characteristic of the weed and high adaptability to the environmental conditions gives advantages for its development.

            The main problem which is generated by the weed is the formation of the thick mat covering the surface of the water. The fern clogs water ways, slows the water flow, which causes flooding and stagnation due to accumulation of organic mater, decreases in the quality and the quantity of water, reduces the use of water for domestic, industry and agriculture.

            To control the floating ferns, the use of mechanical method and conventional herbicides is neither economical nor effective. Therefore, a biological control approach through the release of the natural enemies by the weevils Cyrtobagous salviniae Calder and Sands has been developed.

The suitable environment condition for the development of both weevils and hosts, such as nutrients in water and plant tissues, temperature in water and weather condition (wind) is influence the success for controlling the weed.

 

 

I.        LATAR BELAKANG

Gulma air (Salvinia molesta Mitchell) merupakan gulma air yang memiliki sifat-sifat karakteristik laju berkembang biaknya sangat cepat dengan sifat adaptasi yang tinggi di berbagai kondisi lingkungan, terutama pada air buangan aktivitas industri, limbah domistik, limbah pertanian dan kehutanan. Gulma ini berasal dari bagian tenggara Brasilia (Waterhouse dan Norris, 1987), yang tersebar secara luas ke daerah sub-tropika dan daerah tropika. Penyebaran gulma ini secara tidak langsung oleh manusia digunakan sebagai tanaman hias dan tanaman aquarium (Julien et.al.,1984).

 

 Key Word : Pengendalian hayati, gulma air, Salvnia molesta, Cyrtobagous salviniae

Gulma air ini berkembang biak dengan rimpang dan potongan tanaman, dengan laju pertumbuhan yang cukup tinggi. Poupulasi akan menjadi dua kali lipat dalam 2,5 hari (Room et.al., 1984), yang akan membentuk lapisan tebal menutupi permukaan air dan dapat mencapai ketebalan 3 kaki (Anonim, 2004).  Keberadaan gulma liar ini pada permukaan perairan dapat mengakibatkan penurunan kualitas air, pendangkalan sungai, waduk, situ dan perairan lainnya, penyumbatan aliran air,  penurunan debit air sungai yang berakibat menurunkan produksi budidaya ikan tawar di tambak-tambak, produksi pertanian, maupun pengurangan air baku untuk industri dan keperluan rumah tangga, serta penyebab polusi lingkungan dan sebagai sumber penyakit pada manusia (Hadi, 1992;  Mitchell, 1980).

 

Pengendalian  gulma air di Indonesia umumnya dilakukan secara fisik dengan cara manual, atau dengan alat pengeruk (backsoe) yang membutuhkan biaya yang cukup mahal. Hasil kerukan gulma tersebut kemudian ditampung di tempat pembuangan  (Anonim, 2002). Secara konvensional pengendalian gulma air dapat dilakukan dengan cara kimiawi, dengan menggunakan herbisida, namun membutuhkan biaya yang cukup mahal, sedangkan efektivitasnya masih belum seperti yang diharapkan (Room et.al., 1981). Mengingat pengendalian gulma air secara fisik dan kimiawi membutuhkan biaya yang cukup mahal dan dirasa kurang efektif, maka pendekatan pengendalian hayati dengan pelepasan musuh alami telah dikembangkan.

 

Sejak tahun 1969 pelepasan musuh alami untuk mengendalikan gulma air telah dilakukan, namun menemui kegagalan karena ketidak tepatan pemilihan jenis musuh alami (identifikasi spesies) dan ketidaksesuaian kondisi lingkungan bagi gulma dan musuh alaminya. Sekitar 20 tahun kemudian dilaporkan adanya kesuksesan pengendalian gulma air di Australia dan Papua Nugini. Ketepatan identifikasi jenis musuh alami yang dikoleksi dari tempat asal gulma, serta ketepatan kondisi lingkungan yang sesuai bagi perkembangan musuh alaminya, (seperti kesesuaian temperatur dan kandungan nutrisi dalam lingkungan) merupakan kunci keberhasilan pengendalian gulma air ini (Room et al.,1984; Waterhouse dan Norris, 1987).

Tulisan ini memaparkan tentang kesuksesan dan kegagalan pengendalian hayati gulma air  Salvinvinia molesta menggunakan musuh alami Cyrtobagous salviniae, yang diharapkan dapat dipakai sebagai acuan pengendalian bermacam-macam gulma air yang ada di Indonesia.

 

 

II.    GULMA AIR  (Salvinia molesta)

 

1.      Karakteristik

S molesta, merupakan gulma air yang memiliki rhizoma/ rimpang, dan batang bercabang-cabang tidak beraturan dan beruas-ruas yang terletak dibawah permukaan air. Setiap ruas memiliki sepasang daun yang bentuknya bervariasi tergantung dari kondisi lingkungan hidupnya. Pada awal kolonisasi di perairan terbuka, dimana kondisi nutrisi masih cukup banyak, daun berbentuk pipih dan berukuran kecil. Bentuk daun yang kecil dan pipih ini sebagai adaptasi tanaman dengan lingkungannya, yang dapat menguntungkan bagi perkembangan tanaman. Akan tetapi pada saat populasi telah berkembang dimana kebutuhan nutrisi tanaman meningkat maka, gulma ini akan berkembang menjadi bentuk yang memiliki daun yang lebar dan berlipat-lipat untuk memperluas permukaannya agar memungkinkan pengambilan nutrisi yang cukup untuk kelangsungan kehidupannya. Dengan demikian gulma akan terus bekembang dengan populasi yang cukup rapat sampai menutupi seluruh permukaan perairan (Waterhouse dan Norris, 1987). Ketebalan massa gulma dipermukaan air dapat mencapai 3 kaki (Anonim, 2004). Keberadaan gulma air di permukaan perairan dapat dilihat pada Gambar 1.

 

 

 

 

 

 

 

Gambar 1. Gulma air yang menutupi seluruh permukaan perairan

Giant Salvinia Infesting a Pond

Sumber : http://salvinia.er.usgs.gov/

 

 

b.      Perkembangan gulma dan faktor yang mempengaruhi perkembangannya

 

Gulma air  S molesta berkembang cepat pada perairan yang memiliki aliran air yang lambat. Pertumbuhan gulma dipengaruhi oleh suhu dan kandungan nutrisi lingkungannya, akan tetapi gulma dapat hidup pada kisaran suhu yang cukup luas. Pada temperatur yang rendah, dibawah 10 ºC gulma dapat tumbuh, namun kerapatan populasi yang merupakan biomassa yang tebal menutupi permukaan air tidak terbentuk.Gulma dapat tumbuh pada kondisi lingkungan yang bervariasi. Namun, pertumbuhan gulma akan lebih cepat pada perairan yang tercemar limbah/ sisa pembuangan industri dan domestik/ rumah tangga, serta limbah pertanian dll. Sebagai contoh, pertumbuhan gulma air meningkat sebesar 19% per hari di danau Moondarra, dan meningkat sebesar 51% perhari di perairan sekitar tempat pembuangan limbah di Lagoon (Finlayson, 1984).

 

 

 


III.        MUSUH ALAMI (Cyrtobagous salvineae)

 

Cyrtobagous salviniae, musuh alami  gulma air Salvinia molesta, adalah sejenis kumbang familia Curculionidae. Dalam lingkungan hidupnya pada tanaman inang penampakannya sering sulit dibedakan dengan jenis spesies lain, seperti Cyrtobagous singularis. Larva kumbang C salviniae memakan batang dan rimpang gulma air dengan cara membuat liang gerek pada tanaman inang sehingga ruas-ruas tanaman termasuk batang, rimpang  dan daun-daunnya menjadi terpisah-pisah. Gejala serangan terlihat pada ruas-ruas tanaman inang berubah menjadi berwarna coklat, terpisah-pisah dan berkerut. Musuh alami ini berperan menghambat pengembangan tunas-tunas gulma dan memakannya (Forno dan Bourne, 1985). Kumbang C salviniae lebih suka membuat liang gerek pada titik tumbuh yang merupakan bagian tanaman yang memiliki kandungan nitrogen yang tinggi (Sand et al., 1983).

 

Selain kandungan nitrogen dalam tanaman inangnya, temperatur lingkungan hidup juga mempengaruhi perkembangan kumbang C salviniae. Telur tidak akan menetas pada suhu 19ºC, larva dan pupa tidak dapat berkembang pada suhu 17ºC  (Sand et al., 1983).  Menurut Forno dan Bourne (1985) pada populasi kumbang C salvineae yang cukup tinggi, kerusakan pada tanaman inang akan meningkat secara linier dengan naiknya temperatur. Kerusakan terbesar terjadi pada temperatur lingkungan 25 – 30 ºC .

 

 

IV.        PERMASALAHAN

 

Gulma air (S molesta), sebagai tanaman liar yang hidup di air dapat tumbuh dan berkembang biak dengan cepat di sungai, dam, waduk, situ, danau, rawa, perairan payau dll. Lingkungan perairan yang tercermar limbah menjadi lingkungan yang cocok untuk tumbuh kembangnya gulma dengan cepat. Misalnya, pada limbah yang mengandung fosfat dan  tinggi seperti sisa detergen dari limbah rumah tangga (Hadi, 1992), limbah yang mengandung Merkuri dan Cadmium yang merupakan sisa limbah industri, dll (Anonim, 2002).

Beberapa permasalahan lingkungan yang timbul sebagai akibat dari tumbuh-kembangnya gulma liar ini, antara lain sbb:

o        Pengurangan jumlah dan mutu air serta penutupan permukaan perairan. Penutupan jumlah air adalah sebagai akibat dari besarnya penguapan untuk proses fosintesa daun gulma yang bentuknya lebar dan berlipat-lipat (Mitchell, 1980). Dilaporkan terjadinya penguapan air di waduk Saguling akibat tertutupnya permukaan waduk oleh sejenis gulma air enceng gondok sebesar 5 kali keadaan normal, sehingga mengakibatkan volume air waduk mengalami penurungan hingga 23% (Anonim, 2002). Populasi gulma yang tebal yang menutupi seluruh permukaan air dapat menghambat sirkulasi O2 dari udara. Selain itu terjadinya proses pelapukan potongan-potongan gulma yang ada di dalam air yang membutuhkan O2 akan mengambil O2 yang ada di dalam perairan. Hal tersebut mengakibatkan berkurangnya kandungan O2 di perairan. Padahal ketersediaan O2 dalam perairan ini sangat diperlukan oleh fauna yang hidup di perairan seperti ikan dan biota perairan lainnya (Anonim, 2004). Penutupan permukaan perairan oleh gulma air ini dilaporkan juga di Rawapening yaitu seluas 70% dari luas permukaan rawa atau 2.300 ha (Anonim, 2002). Disamping itu dengan terjadinya penurunan kwalitas air, maka ketersediaan air bersih untuk keperluan rumah tangga, pembangkit tenaga listrik dan industri akan berkurang.

o        Tersumbatnya saluran air dan debit air mengecil

Massa gulma yang sangat tebal di permukaan perairan dapat menyumbat saluran, yang berakibat meluapnya aliran air sungai dan saluran yang menyebabkan terjadinya banjir (Hadi, 1992). Penyumbatan aliran juga mengakibatkan penurunan debit air yang mengalir ke sungai/saluran yang akan mengurangi ketersediaan air untuk usaha pertanian/ irigasi dan perikanan. Dengan mengecilnya ketersediaan air irigasi akan berakibat terjadinya penurunan produktivitas usaha Pertanian dan perikanan.

o        Timbulnya penyakit pada  manusia

Tumbuhnya gulma liar di permukaan air menjadi tempat hidup bagi nyamuk yang dapat menyebabkan penyakit pada manusia (Anonim, 2004). Begitu juga adanya penumpukan sampah gulma di daratan, dalam rangka pembersihan sungai/ waduk, akan menyebakan pembusukan massa gulma tersebut yang akan menjadi sumber penyakit pada manusia.

o        Sedimentasi dan pendangkalan

Berkurangnya air sebagai akibat penguapan yang berlebihan, serta pengendapan massa gulma/pelapukan yang cukup banyak mengakibatkan sedimentasi dan pendangkalan perairan.

o        Biaya pemeliharaan yang tinggi

Untuk mengendalikan gulma air dan menjaga agar waduk, dam, saluran-saluran tetap berfungsi dengan baik, diperlukan pembersihan/ pengkerukan yang dilakukan secara rutin dan terus menerus. Kegiatan ini membutuhkan biaya yang cukup mahal. Di Waduk Saguling, biaya yang dikeluarkan untuk pengambilan secara manual gulma air Enceng Gondok sebesar 1 milyar rupiah per tahun (Anonim, 2002)

o        Polusi lingkungan akibat tumpukan sampah

Hasil pengerukan massa gulma air yang tertumpuk di dekat perairan, akan menimbulkan problem tumpukan sampah. Tumpukan biomassa ini akan mengalami pembusukan dan apabila tidak dilakukan pemindahan sesegera mungkin dan pemrosesan lebih lanjut (misal pengomposan untuk pupuk), akan  menimbulkan masalah polusi lingkungan.

 

 

V.           PENGENDALIAN HAYATI/ ALAMI

Dalam pengendalian populasi baik populasi hama,  penyakit tanaman atau gulma dikenal cara pengendalian secara alami dengan memanfaatkan dan memberikan peran kepada faktor biotik/ hayati seperti bakteri, jamur dan serangga untuk  menekan populasi yang dikendalikan/ inangnya. Cara pengendalian ini dikenal dengan pengendalian hayati (Wilson dan Huffaker, 1976). Dalam hal ini sebagai populasi yang akan dikendalikan adalah gulma air S molesta atau sebagai tanaman inang, sedangkan sebagai pengendali alami atau musuh alami adalah serangga/ kumbang C salvineae.

 

a.       Kegagalan pengendalian hayati

Pelepasan musuh alami untuk mengendalikan gulma air S molesta tercatat pada tahun 1969 dilakukan di danau Caribia, yang kemudian diikuti di berbagai negara seperti Bostwana, Fiji, India, Kenya dan Sri Langka. Akan tetapi usaha tersebut mengalami kegagalan (Julien, 1982). Ada dua hal yang menyebabkan ketidak berhasilan pelepasan musuh alami ini, ialah:

o         Musuh alami yang digunakan untuk mengendalikan S molesta adalah kumbang yang diambil dari populasi Salvinia auriculata, bukan berasal dari populasi S molesta. Disamping itu, hasil identifikasi lebih lanjut diketahui bahwa kumbang tersebut ternyata bukan C salviniae tetapi Cirtobagous singularis. Oleh karena itu, setelah kumbang dilepas diperairan yang penuh gulma S molesta yang ternyata bukan inangnya, maka kumbang ini tidak dapat berkembang biak dengan cepat. Dengan tidak berkembang-biaknya kumbang ini maka kumbang tidak dapat mencapai jumlah populasi yang cukup, yang mampu untuk mengendalikan populasi S molesta di perairan tersebut.

o         Walaupun kumbang C singularis dapat menyebabkan kerusakan pada S molesta, namun kerusakan yang ditimbulkan berbeda dengan yang ditimbulkan oleh C salviniae. Dalam hal ini, gulma menjadi terpotong-potong akan tetapi potongan-potongan batang gulma tersebut ternyata masih dapat tumbuh lagi dan membentuk tanaman baru.

 

b.       Keberhasilan Pengendalian Hayati

 

Ketepatan identifikasi musuh alami dan kesesuaian inang

Keberhasilan pengendalian hayati gulma air S molesta menggunakan musuh alami untuk pertamakalinya dilaporkan di Australia, yang kemudian diikuti kesuksesan lain di Papua Nugini. Musuh alami  atau kumbang C salviniae yang digunakan adalah kumbang yang dikoleksi dari tempat asalnya yaitu di lingkungan hidup populasi S molesta di Bagian Timur Brasilia (Waterhouse dan Norris, 1987). Setelah dilakukan perbanyakan populasi, selanjutnya sebanyak 80.000 ekor kumbang C salvineae dilepaskan di danau Moondara-Queensland dengan luas 400 ha yang seluruh permukaannya ditutupi oleh gulma air S molesta, yang diperkirakan berat biomassa segar gulma tersebut sebanyak 50.000 ton.  Sekitar 13 -14 bulan setelah pelepasan musuh alami, gulma air di seluruh permukaan danau berubah menjadi coklat. Pada sampel gulma yang diambil sejauh 2 km dari tempat pelepasan, ditemukan sebanyak 60-80 kumbang dewasa  per dua meter persegi. Diperkirakan jumlah kumbang secara keseluruhan menjadi 100.000.000 ekor. Pengamatan yang dilakukan 6 bulan kemudian, diketahui bahwa biomassa gulma air yang semula sebanyak 50.000 ton tinggal  1 ton saja. (Room et al., 1981). Keberhasilan pengendalian hayati gulma air di Australia tercatat sebanyak 7 kali dari 8 perairan yang dikendalikan, satu diantaranya mengalami kegagalan. Setelah diadakan penelitian lebih lanjut, kegagalan ini ternyata disebabkan karena rendahnya kandungan nutrisi (nitrogen) baik pada jaringan tanaman gulma inangnya maupun dalam perairan yang merupakan lingkungan hidup gulma tersebut (Room et al., 1984).

 

Kandungan nitrogen di perairan dan di tanaman inang

Pegengendalian hayati gulma di Papua Nugini, dilakukan dengan melepaskan kumbang C salvineae, jenis yang sama dengan yang digunakan di Australia. Akan tetapi tidak seperti di Australia, di Papua Nugini, kumbang ini tidak dapat berkembang-biak dan tidak dapat menekan populasi S molesta. Ternyata diketahui bahwa  kandungan nitrogen pada daun gulma air yang dikendalian terlalu rendah, sehingga musuh alami tidak dapat berkembang-biak hingga mencapai populasi yang cukup untuk mengendalikan gulma. Untuk memberikan lingkungan yang sesuai/ yang dibutuhkan oleh musuh alami agar dapat berkembang biak, maka perlu dilakukan peningkatan kandungan nitrogen dalam perairan dan pada daun gulma, yaitu dengan pemberian urea. Pemberian urea ini dapat meningkatkan kandungan nitrogen dalam lingkungan perairan, yang kemudian dapat meningkatkan kandungan nitrogen pada jaringan tanaman gulma, sehingga menciptakan kondisi yang sesuai untuk berkembang-biak musuh alami tersebut. Dengan nutrisi yang cukup, kumbang dapat berkembang biak  hingga mencapai populasi yang cukup untuk mengendalikan gulma di perairan tersebut. Diperkirakan sebanyak 2 juta ton massa gulma dapat dikendalikan oleh kumbang tersebut dalam waktu 2 tahun. Seiring dengan penurunan populasi gulma, populasi musuh alaminya juga akan mengalami penurunan, dan diperkirakan kedua populasi tersebut akan punah sebelum musim hujan tiba (Thomas dan Room, 1986).

 

 

VI.  PEMBAHASAN

 

Penyebaran gulma air keseluruh wilayah di dunia kemungkinan tidak dapat dihindarkan karena penampilan gulma yang menarik, sebagai tanaman hias dan tanaman di aquarium.

 

Walaupun gulma air ini dapat dimanfaatkan sebagai mulsa untuk usaha pertanian dan bahan baku untuk barang-barang kerajinan (Hadi, 2002), akan tetapi perkembangan gulma air ini dapat mengakibatkan kerusakan lingkungan, seperti penurunan mutu dan jumlah air, sedimentasi, pendangkalan, penyakit pada manusia, polusi lingkungan dll, sehingga kerugian yang ditimbulkan oleh tumbuh-kembangnya gulma ini jauh lebih besar dari manfaat yang diperoleh untuk kehidapan manusia.

 

Pengendalian gulma air di Indonesia secara fisik dan mekanik dengan cara pengambilan gulma dan pengkerukan perairan, selain membutuhkan biaya yang cukup banyak, pengendalian gulma dengan cara ini dirasa kurang efektif dan bersifat tidak permanen. Hal tersebut karena upaya pengambilan dan pengkerukan hanya mengurangi dan memindahkan gulma saja. Sisa-sisa gulma yang masih tertinggal di perairan akan tumbuh dan berkembang biak secara terus menerus.

 

Gulma air S molesta yang berkembang biak dengan batang dan rimpang serta potongan-potongan bagian tanamannya, sangat sulit dikendalikan secara perusakan fisik dan cara mekanik dengan pengkerukan. Hal tersebut karena masing-masing potongan/ bagian tanaman akan tumbuh menjadi tanaman baru.

 

Kumbang C salviniae yang merupakan musuh alami dari S molesta, di dalam tubuh inangnya membuat liang gerek yang mengakibatkan bagian tanaman terpotong-potong dan berwarna coklat/ membusuk. Disamping itu, kumbang yang lebih senang  hidup di bagian titik tumbuh inangnya (karena kandungan nitrogen bagian titik tumbuh adalah cukup tinggi), akan menghambat perkembang biakan gulma dan mengakibatkan kematian gulma/ inang yang dikendalikan.

 

Keberhasilan pengedalian hayati gulma air S molesta oleh musuh alaminya di Australia dan Papua Nugini dipengaruhi oleh kebenaran identifikasi  spesies musuh alami yang diambil dari lingkungan hidup asal inangnya. Disamping itu, kesesuaian lingkungan hidup musuh alami ialah kandungan nutrisi (nitogen) pada jaringan tanaman inangnya, diperlukan untuk perkembangannya. Selain kandungan nitrogen, perkembangan musuh alami dipengaruhi oleh lingkungan tumbuh yang sesuai, seperti temperatur sangat diperlukan untuk perkembang-biakan musuh alami dan angin akan mempercepat penyebaran populasi musuh alami di perairan yang dikendalikan.

 

Keberhasilan pengendalian hayati diindikasikan dengan meningkatnya populasi atau tumbuh dan berkembang-biaknya musuh alami. Namun, seiring dengan penurunan populasi gulma yang dikendalikan, akan terjadi pula penurunan populasi musuh alaminya ialah mengalami kematian karena keterbatasan makanan. Pada suatu kurun waktu tertentu, baik populasi inang maupun musuh alaminya secara perlahan-lahan akan berkurang, mati atau bahkan musnah.

 

Di alam, hubungan antara populasi gulma  dan musuh alaminya akan mencapai keseimbangan pada tingkat populasi gulma yang tidak merugikan. Namun apabila populasi gulma meningkat yang secara ekonomi merugikan maka upaya pengendalian hayati dengan perbanyakan dan pelepasan musuh alami perlu dilakukan.

 

Kesalahan identifikasi spesies musuh alami yang dilepas akan mengakibatkan kegagalan pengendalian, yang akan menyebabkan kerugian tidak saja secara ekonomi (misalnya menyangkut biaya survey, biaya import serangga), namun juga berakibat kerusakan ekosistem. Ada kemungkinan justru tanaman pertanian yang memiliki ekonomi tinggi merupakan habitat dari musuh alami yang diintroduksi tersebut, sehingga introduksi musuh alami akan mengancam kelangsungan hidup populasi tanaman pertanian yang ada.

 

 

VI. PENUTUP

 

Gulma air S molesta memiliki sifat-sifat karakteristik yang menguntungkan bagi perkembangannya, seperti perubahan bentuk daun menyesuaikan dengan keadaan lingkungan, perkembangbiakan dengan potongan-potongan bagian tanaman, serta adaptasi yang tinggi terhadap berbagai kondisi lingkungan perairan, menyebabkan gulma dapat berkembang-biak dengan cepat membentuk lapisan massa yang tebal pada permukaan perairan.

 

Keberadaan populasi gulma menutupi seluruh permukaan perairan dengan   cukup rapat, mengakibatkan kerusakan lingkungan perairan, seperti penurunan jumlah dan kualitas air, pendangkalan dam, waduk, dan saluran, penyumbantan saluran dan penghambatan aliran air yang berakibat mengecilnya debit air, sehingga mengurangi produktivitas usaha pertanian dan perikanan, mengurangi jumlah air bersih untuk keperluan domestik dan industri, serta menyebabkan penyakit bagi manusia.

 

Pengendalian gulma air di Indonesia umumnya dilakukan secara fisik atau mekanik dengan pencabutan gulma dan pengerukan perairan yang membutuhkan biaya yang cukup banyak dan dirasa kurang efektif karena pengendalian cara ini bersifat sementara saja.

 

Kegagalan dan kesuksesan pengendalian hayati gulma air S molesta dengan cara pelepasan musuh alaminya (kumbang C salvineae) di beberapa negara di luar negeri seperti India, Sri Langka, Australia dan Papua Nugini dapat digunakan sebagai acuan pengendalian hayati gulma air di Indonesia.

 

Faktor yang menyebabkan kesuksesan dan kegagalan pengendalian hayati perlu dipelajari, termasuk kehati-hatian dalam identifikasi baik gulma maupun musuh alaminya, serta factor-faktor lingkungan yang menentukan keberhasilannya. Hal ini sangat diperlukan, agar maksud pengedalian gulma tercapai tanpa menimbulkan dampak lingkungan yang tidak diinginkan.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Anonim. Salvinia molesta-Giant Water Fern-A Problem Aquatic Plant in... www.wapms.org/plants/salvinia.html-10, dikunjungi pada tanggal 29 Maret 2004

Anonim. 2002. Issue lingkungan. www.indonesiapower.co.id/lingk.htm.16k

Anonim, 2002. Tahun 2010 Rawapening diperkirankan jadi daratan. www.sinarharapan.co.id/berita/0303/20/nus02.html-22k-Cached.

Finlayson, CM.1984. Growth rate of Salvinia molesta in lake Mondarra, Mount Isa, Australia, Aquat.Bot. 18.p. 257-262.

Forno, IW. dan AS Bourne. 1985. Feeding by adult Cyrtobagous salvineae on Salvinia molesta under different regimes of temperatur and nitrogen content and the effect of plant growth. Entomophaga. 30 : 3.p. 279-286.

Hadi, W. 1992.  Top/Proccedings/Dept. Of Environtmental Eng./1992/jbptitbpp-gdl-proc-1992-wahyono-808-enceng.

Julient, MH. (Ed.). 1982. Biological control of weeds. A world catalogue of agents and their target weeds. (Commonwelth Agricultural Bureuaux Farnham Royal). 108 pp.

Julient, HM, PM Room dan IW Forno. 1984. Entomological research and weed control : the case of Salvinia. Bailey, P. and Swincer, D (Ed.). Australian Applied Entomological Research. Conference. September 1984. p. 317-323.

 Mitchell, DS. 1980. The management of Salvinia molesta in Papua New Guinea. Del Fosse, ES. (Ed.). Fifth International Symposium on Biological Control of Weeds. July 1980. Commonwelth Scientific and Industrial Research Organization, Australia. P. 31-34.

Room, PM., IW Forno dan MFJ Tailor. 1984. Establishment in Australia of two insects for biological control of the floating weed Salvinia molesta. Bull. Ent. Res. 74. 505 -516.

 Room, PM., KLS Harley, IW Forno dan DPA Sand. 1981. Successful biological control of floating weed Salvinia. Nature. 294. p. 78-80.

Sands, DPA. 1983. Rapid republication note : Identity of Cyrtobagous sp. (Coleoptera : Curculionidae) introduced into Australia for biological control of  Salvinia. Journal Auatralian Entpmological Society. 1983. 22. p. 200.

Thomas, PA. dan PM Room. 1986. Taxonomy and control of Salvinia molesta. Nature. 320 : 581 – 584.

Waterhouse, DF dan KR Norris. 1987. Salvinia molesta Mitchell in bioloical control : Pacific prospect. Australian Centre for International Agricultural Research. Inkata Press, Melbourne. P. 342 – 349.

Wilson, F dan CB Huffaker. 1976. The phylosophy, scope and importance o biological control In Huffaker CB. And Messenger. (Ed.). Theory and Practice of Biological Control. Academic Press. New YorkSan FranciscoLondon. P. 3-15.